Mamberamo,- Perempuan-perempuan itu selalu membalas dengan senyuman.

Tidak ada kata-kata.

Bukan karena mereka tidak ramah. Bukan pula karena mereka menolak berbicara. Mereka hanya tidak memahami bahasa Indonesia.

Pada November 2009, selama hampir tiga minggu berada di Kampung Bareri, Distrik Rouffaer, Kabupaten Mamberamo Raya, kami berulang kali mengalami situasi yang sama. Setiap kali menyapa para ibu, jawaban yang kami terima hanyalah senyum.

Senyum panjang.

Senyum canggung.

Senyum yang perlahan berubah menjadi pertanyaan dalam benak kami.

Mengapa mereka tidak berbicara?

Barulah kemudian seorang warga menjelaskan.

“Mama-mama di sini tidak bisa bahasa Indonesia. Kalau laki-laki, sebagian bisa.”

Kalimat sederhana itu membuka kenyataan yang jauh lebih besar.

Di Kampung Bareri, bahasa ternyata bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa menjadi garis pemisah antara mereka yang memiliki akses terhadap dunia luar dan mereka yang hidup di balik batas-batas kampung.

Laki-laki sesekali keluar kampung. Mereka berburu, berdagang, atau mengurus berbagai keperluan ke kota. Dari perjalanan-perjalanan itulah mereka belajar sedikit demi sedikit menggunakan bahasa Indonesia.

Sementara perempuan hampir tidak pernah pergi.

Sebagian besar hidup mereka berlangsung di kampung, mengurus anak, memasak, berkebun, mengolah sagu, dan menemani keluarga.

Dunia mereka hanya sejauh hutan, sungai, dan kebun.

Akibatnya, banyak perempuan dewasa di Bareri tidak pernah memiliki kesempatan mengenal bahasa nasional.

Mereka hidup di negeri sendiri, tetapi tidak mampu berbicara menggunakan bahasa negara.

Ketika Pendidikan Tidak Pernah Datang

Kisah Yuli Pice Towoli—yang akrab dipanggil Yerbice—menjadi gambaran paling nyata.

Di kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat miliknya tertulis tahun kelahiran 1996. Ketika kami datang pada 2009, usianya sudah sekitar 13 tahun.

Namun saat itu Yerbice baru duduk di bangku kelas satu sekolah dasar.

Ayahnya hanya tersenyum ketika ditanya mengapa anak seusia itu baru mulai sekolah.

Jawaban sesungguhnya kami temukan beberapa hari kemudian.

Sekolah memang berdiri.

Gedungnya masih ada.

Namun pendidikan hampir tidak berjalan.

Orang tua mengaku anak-anak mereka bisa berbulan-bulan tidak belajar. Aktivitas belajar mengajar baru berlangsung beberapa bulan menjelang ujian.

Akibatnya, banyak anak yang telah duduk di kelas empat, lima, bahkan enam sekolah dasar belum mampu membaca maupun menulis.

Yang paling merasakan dampaknya adalah anak-anak perempuan.

Ketika pendidikan tidak hadir sejak kecil, mereka tumbuh menjadi perempuan dewasa yang tetap buta huruf dan tidak mengenal bahasa Indonesia.

Siklus itu kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya.

Terkurung oleh Jarak

Bareri bukan kampung yang mudah dijangkau.

Untuk mencapainya, perjalanan dapat ditempuh menggunakan pesawat perintis menuju Kampung Biri, dilanjutkan berjalan kaki sekitar enam jam melintasi hutan dan sungai kecil.

Alternatif lain adalah menggunakan longboat melalui Sungai Rouffaer selama belasan hingga puluhan jam, dengan biaya bahan bakar yang sangat besar.

Sulitnya akses membuat mobilitas masyarakat menjadi sangat terbatas.

Namun keterbatasan itu tidak dirasakan sama oleh laki-laki dan perempuan.

Laki-laki masih memiliki peluang meninggalkan kampung untuk berburu, berdagang, atau mengurus berbagai kebutuhan administrasi.

Perempuan hampir tidak memiliki kesempatan serupa.

Mereka tetap tinggal di kampung.

Tidak mengenal dunia luar.

Tidak memperoleh pendidikan.

Tidak menguasai bahasa Indonesia.

Dalam banyak hal, mereka menjadi kelompok yang paling terisolasi.

Melahirkan dalam Ketidakpastian

Kerentanan perempuan mencapai puncaknya ketika persoalan kesehatan datang.

Suatu hari seorang ibu mengalami pendarahan hebat saat melahirkan.

Ia pingsan.

Keluarganya segera memutuskan bahwa ia harus dibawa ke Puskesmas Fawi, pusat pelayanan kesehatan terdekat yang memiliki tenaga medis.

Namun masalah baru muncul.

Satu-satunya longboat kampung sedang digunakan mengantar warga lain yang mengalami kecelakaan kerja.

Tidak ada kendaraan lain.

Tidak ada dokter.

Tidak ada perawat.

Tidak ada obat.

Di tengah keterbatasan itu, perempuan tersebut hanya bisa mengandalkan pertolongan seadanya dari bidan kampung dan keluarga.

Beruntung nyawanya terselamatkan.

Namun kejadian itu menunjukkan betapa rapuhnya posisi perempuan ketika pelayanan kesehatan dasar tidak tersedia.

Ironisnya, di Kampung Bareri sebenarnya berdiri sebuah bangunan puskesmas yang cukup megah.

Bangunan itu kosong.

Tidak ada tenaga kesehatan.

Tidak ada pelayanan.

Tidak ada obat-obatan.

Fasilitas ada.

Pelayanan tidak pernah benar-benar hadir.

Ketika Negara Hadir Sebatas Bangunan

Sekolah berdiri.

Puskesmas berdiri.

Program pembangunan datang silih berganti.

Dana desa mengalir.

Dana Otonomi Khusus terus bertambah.

Namun bagi perempuan Bareri, negara belum benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Negara hadir dalam bentuk papan nama sekolah yang jarang dipakai belajar.

Negara hadir dalam bangunan puskesmas yang kosong.

Negara hadir dalam berbagai program yang tidak pernah menyentuh kemampuan dasar perempuan untuk membaca, menulis, berbicara, memperoleh layanan kesehatan, dan menentukan masa depannya sendiri.

Akibatnya, perempuan menjadi kelompok yang paling sunyi dalam pembangunan.

Mereka bekerja sejak pagi hingga malam.

Menyiapkan makanan.

Mengolah sagu.

Mengurus anak.

Menjaga keluarga.

Namun suara mereka nyaris tidak pernah terdengar karena mereka bahkan tidak memiliki bahasa yang dipahami oleh para pengambil kebijakan.

Senyum yang Menyimpan Pertanyaan

Selama berada di Bareri, kami berkali-kali menerima senyum dari para ibu.

Kini kami memahami makna senyum itu.

Senyum tersebut bukan sekadar keramahan.

Ia menyimpan cerita panjang tentang keterisolasian, pendidikan yang gagal menjangkau mereka, pelayanan kesehatan yang belum hadir, dan pembangunan yang belum berpihak kepada perempuan.

Pertanyaannya bukan lagi mengapa perempuan Bareri tidak dapat berbicara bahasa Indonesia.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

Mengapa hingga kini negara belum mampu menghadirkan kesempatan yang sama bagi perempuan di kampung-kampung terpencil Papua?